Program Ok Otrip Kurang Laku, Pengamat: Menyedihkan

Salah seorang pelanggan Transjakarta yang baru saja membeli kartu Ok Otrip, Selasa (26/12/2017). (Foto: Kompas/Sherly Puspita)


Program Ok Otrip yang digagas Anies Baswedan-Sandiaga Uno kurang diminati masyarakat.

Berdasarkan data per 27 Desember 2017, selama 5 hari sejak diluncurkan pada 23 Desember lalu, penjualan kartu Ok Otrip di sejumlah halte Transjakarta baru terjual 125 kartu.

Padahal Pemprov DKI menyediakan 5.000 lembar kartu Ok Otrip.

Kepala Humas PT Transjakarta, Wibowo, pun membenarkan hal tersebut.

“Iya, sudah 125 kartu yang sampai saat ini terjual,” kata Wibowo kepada Warta Kota, Rabu (27/12/2017).

Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah menilai, hal tersebut terjadi karena buruknya implementasi kebijakan Ok Otrip.

Selain itu, menurut Trubus, kebijakan Ok Otrip juga dianggap membingungkan.

“Karena bikin bingung, makanya tak direspon. Ini kan menyedihkan,” kata Trubus kepada Warta Kota, Rabu (27/12/2017).

Trubus menambahkan, kebingungan masyarakat muncul karena selama ini sudah jelas naik Transjakarta cukup Rp 3.500 sudah dapat keliling Jakarta.

“Nah Ok Otrip malah lucu. Biayanya malah jadi Rp 5.000 dan sistemnya beribet. Sehingga wajar saja warga menangkap ada kenaikan ongkos Rp 1.500,” ucap Trubus.

Ditambah lagi, kata Trubus, tak diminatinya Ok Otrip karena perencanaan kebijakan yang kurang matang dan komprehensif.

“Makanya di tataran implementasinya jadi tidak jelas,” ujar Trubus.

Ujung-ujungnya, kata Trubus, masyarakat yang lagi-lagi dirugikan.

“Ini cerminan manajemen kepemimpinan Anies-Sandi yang bersifat elitis dan cenderung membuat kebijakan sekadar mencari popularitas, ingin tampil beda, dan cenderung dipaksakan demi sekadar memenuhi janji-janji politik,” pungkasnya.