Mempertahankan Kilau Kendaraan Dengan Detailing

Auto detailing, tidak semua orang faham atau bahkan pernah mendnegar istilah ini.

Sedikit penjelasan. Dalam laman wikipediadijelaskan bahwa ¬†detailing atau auto detailing merupakan:¬†“performance of an extremely thorough cleaning, polishing and waxing of an automobile, both inside and out, to produce a show-quality level of detail. Besides improving appearance, detailing helps to preserve resale value of a car.”

Istilah detailing kadang disalah mengerti dengan istilah “polishing“, atau istilahdalam bahasa Indonesia berarti “moles”. Kebanyakan orang menganggap bahwa proses me-make over tampilan kendaraan secara keseluruhan adalah polishing. Padahal itu hanyalah bagian dari proses detailing secara keseluruhan.

Seperti dikatakan Wikipedia, detailing ditujukan untuk mempercantik penampilan kendaraan, sekaligus meninggikan nilai jualnya. Namun di samping itu, detailing juga berguna untuk melindungi dari berbagai kontaminan dan ancaman yang berbahaya bagi permukaan kendaraan.

Tahap-tahap dalam detailing
Tahap-tahap yang mesti dilalui dalam proses detailing sangat bergantung dari kondisi kendaraan. Tapi secara keseluruhan, aktivitas ini meliputi:
1. Membersihkan
2. Koreksi
3. Polishing
4. Melindungi
5. Merawat
Penjelasan
1. Membersihkan

Tahap ini bertujuan untuk melepaskan kotoran dan kontaminan yang hinggap di permukaan kendaraan. Caranya bisa melalui mencuci, claying, atau memakai produk pembersih khusus lainnya. Di sini saya cuma membahas 2 macam aktivitas yang masuk dalam tahap membersihkan.- Mencuci

Dalam perspektif para detailer, mencuci adalah proses rutin yang wajib dilakukan, tapi sekaligus penuh risiko. Karena dari sinilah sebagian besar defect normal yang diderita kendaraan terjadi, terutama karena alat bantu dan teknik yang tak tepat. Defect yang paling sering terjadi dalam proses mencuci adalah swirl mark (gores halus) dan scratch (baret).Beberapa alat bantu yang tidak direkomendasikan dalam mencuci justru menjadi peralatan yang sangat populer dipakai orang. Sebagai contoh, lap chamois dan busa yang kasar atau porinya terlalu kecil. Kedua alat bantu tersebut tak memiliki kemampuan menyembunyikan kotoran. Sehingga ketika ada pasir yang terusap oleh alat tersebut, pasir itu akan terbawa kesana-kemari menggores cat.

Peralatan mencuci yang direkomendasikan biasanya terbuat dari serat microfiber. Idealnya dibutuhkan wash mitt untuk meratakan shampo dan handuk waffle weave untuk mengeringkan. Washmitt berbahan microfiber memiliki serat sangat halus dan punya daya statik yang mampu menahan sekaligus menyembunyikan debu dan pasir di dalam serat, sehingga lebih aman saat diusap ke permukaan kendaraan. Sementara waffle weave dirancang untuk memiliki daya serap air yang luar biasa. Selembar waffle weave berkualitas hanya butuh 1-2 perasan untuk mengeringkan sebuah mobil berukuran sedang.

serat microfiber

Selain alat bantu hal lain yang tak boleh dilupakan adalah pemilihan shampo yang tepat. Sebuah data menyebutkan bahwa separuh pemilik kendaraan di dunia ini mencuci tunggangannya dengan deterjen. Padahal hal ini sangat berbahaya bagi cat kendaraan. Warna yang pudar dan oksidasi seringkali hanya dianggap efek usia kendaraan, padahal boleh jadi penyebabnya adalah penggunaan deterjen.

Shampo yang baik tak mengandung deterjen serta bersifat ph balance, sehingga mampu menetralisir kandungan air tanah. Selain itu shampo juga mesti memiliki lubrikasi dan daya bersih yang tinggi. Lubrikasi berguna untuk membantu mengurangi risiko swirl saat menyingkirkan kotoran. Selain itu, untuk perawatan sebaiknya shampo tidak mengandung unsur yang bisa menghapus wax/sealant yang sudah kita aplikasi. Soal wax/sealant akan kita bahas selanjutnya.

Selain alat bantu dan shampo yang tepat, mencuci juga perlu teknik yang tepat. Hingga saat ini metode two bucket system merupakan cara paling populer yang dipraktikan para detailer. Untuk itu kita butuh dua buah ember. Ember pertama diisi air bersih, ember kedua berisi larutan shampo dan air.

Langkah-langkah mencuci, biasanya diawali dengan membersihkan bagian pelek, ban dan sekitarnya yang sangat kotor. Dalam fase ini kita tidak perlu memakai wash mitt. Setelah selesai, semprot air bertekanan ke kendaraan untuk menyingkirkan sebagian besar kotoran. Selanjutnya celupkan wash mitt ke ember larutan shampo, lalu usapkan ke satu panel di kendaraan. Sebelum wash mitt dicelup ke larutan shampo lagi, bersihkan dan kucek-kucek di ember berisi air bersih, untuk melepas kotoran yang menyangkut, baru dicelup lagi ke larutan shampo. Lakukan ini setiap satu panel. Usahakan untuk mengusap bagian teratas dahulu, karena biasanya semakin ke bawah semakin kotor.

Setelah selesai meratakan shampo, bilaslah kendaraan tanpa menggunakan tekanan. Biarkan air mengalir alami lewat selang. Aliri dari bagian kendaraan yang paling tinggi. Dengan memanfaatkan efek water sheeting ini kita menghemat waktu dan air. Karena air yang mengalir dari bagian paling atas akan melarutkan shampo dan kotoran di bawahnya. Dengan begini kita tak perlu semprot sana semprot sini.

Keuntungan lain dari cara bilas seperti ini adalah minimnya air yang tersisa di bodi kendaran. Perbedaannya bisa 80-90% dibanding kita membilas dengan cara disempot. Minimnya sisa air memudahkan dan mempercepat tugas pengeringan. Orang yang terbiasa mencuci kendaraan akan tahu risiko timbulnya waterspot dari pengeringan yang tak sempurna. Jangan lupakan mengeringkan sudut-sudut dan lipatan sempit.

Mencuci sebaiknya dilakukan secara rutin tiap pekan. Atau segera sesudah kendaraan terkena hujan.

– Claying

Debu dan pasir masih bisa terlihat secara kasat mata, dan bisa dihilangkan dalam proses mencuci. Lalu bagaimana dengan sisa hujan asam, polusi dan residu lainnya yang tak bisa dihilangkan dengan mencuci. Solusinya adalah claying.Kapan kendaraan kita membutuhkan claying? Hal ini bisa diketahui menginspeksi permukaan kendaraan setelah mencuci. Cara termudah adalah dengan melapisi tangan kita memakai plastik tipis. Usap-usap permukaan kendaraan. Permukaan yang bersih akan terasa semulus kaca. Jika kita merasakan bintik-bintik atau gejala tak rata lainnya, saat itulah kendaraan butuh clay.

Bentuk clay tak ubahnya lilin empuk yang sering dijadikan mainan anak-anak. Sebelum digunakan, clay dipipihkan hingga selebar pegangan empat jari kita. Untuk melakukan claying kita butuh lubrikan agar clay bisa diusap secara aman di atas permukaan. Lubrikatornya bisa larutan shampo kendaraan atau quick detailer (akan dibahas nanti), tergantung rekomendasi produsen. Bahkan ada yang hanya merekomendasi air bersih biasa.

Sebelum diusap-usapkan ke permukaan, spray lubrikan ke panel 3-4 kali. Lalu usap-usapkan clay. Kita akan merasakan kotoran-kotoran yang tersentuh clay. Jika terasa permukaan kasar, oleskan terus di titik itu hingga terasa licin. Secara rutin periksa permukaan clay. Jika sudah kotor, bulatkan lalu pipihkan lagi untuk mencari permukaan yang bersih. Selain di permukaan cat, clay juga bisa diusapkan ke kaca, bahan plastik, pelek, bahkan ban.

Jika tak pernah melakukan ini, kita akan kaget melihat kendaraan yang baru dicuci ternnyata bisa mengidap kotoran sebanyak itu.

Claying biasanya dibutuhkan dalam interval 1-3 kali dalam setahun, tergantung kondisi lingkungan dan perawatan kendaraan.

2. Koreksi

Selesai claying, periksalah permukaan kendaraan menderita defect seperti swirl, scratch, water spot, atau yang lainnya. Jika hanya ada scratch atau swirl ringan, kita mungkin bisa melewati tahap ini dan langsung melakukan polishing. Tapi jika terjadi scratch medium, oksidasi, water spot yang sudah terlalu dalam, koreksi perlu dilakukan.Jika dalam proses mencuci dan claying yang dibersihkan adalah kontaminan di atas permukaan cat, maka tahap koreksi ini terkait dengan defets yang terjadi di bawah permukaan cat.

Dalam proses ini produk yang dibutuhkan adalah kompon. Penggunaannya bisa menggunakan tangan, mesin dual action, atau rotary. Penggunaan tangan akan memakan waktu dan tenaga yang tak sedikit. Sebaliknya, paling efektif adalah menggunakan mesin rotary, hanya saja ini sangat berisiko bagi pemula. Karena malah bisa menimbulkan hologram, habisnya lapisan pernis dan paint burning, jika memakai teknik yang tak tepat. Pilihan populer adalah menggunakan mesin dual action, yang menggabungkan antara efektivitas mesin dengan keamanan tangan.

Gambar di atas adalah contoh beberapa defect yang paling umum terjadi pada cat kendaraan. Kompon digunakan untuk mengikis lapisan pernis (clear coat) yang bening, agar goresan-goresan menjadi datar. Apakah hal ini aman dilakukan? Secara teori, mengikis sampai 25% dari total ketebalan pernis adalah toleransi yang masih diterima tanpa membahayakan kekuatan pernis.

Lalu bagaimana dengan defect yang dalamnya lebih dari 25% ketebalan, atau malah sampai ke lapisan pigmen warna, bahkan sampai ke base coat? Jika defect masih di lapisan clear coat, dalam beberapa kasus bisa dilakukan pengamplasan basah, atau “disembunyikan” dengan glaze (akan dibahas nanti) untuk sementara. Namun jika sudah melewati lapisan clear coat, solusi mungkin hanya dicat ulang di titik tersebut, atau dibiarkan saja.

Mengenai kompon, produk ini masuk jenis produk poles yang kemampuan abrasifnya paling tinggi. Karena fokus utama kompon adalah pengikisan (heavy cut), maka sering kali setelah proses ini dilakukan, permukaan cat kendaraan menjadi buram atau menyisakan swirl. Ini merupakan hal yang normal. Untuk mengembalikan kilau, dibutuhkan step lanjutan, yakni polishing.

Dewasa ini teknologi pembuatan produk kompon kian canggih. Beberapa produsen terkemuka mampu memproduksi kompon yang hasil akhirnya hampir menyamai, bahkan bisa setaraf hasil polishing. Tapi umumnya para detailer tetap menganggap perlunya tahap ini disusul dengan aplikasi polish.

3. Polishing

Untuk kendaraan dalam kondisi baik, yang tak perlu melewati tahap koreksi, perlu juga diinspeksi apakah memerlukan treatment pada tahap ini. Jika kendaraan dalam kondisi sangat baik, dengan kilau cat yang segar dan tak terlihat swirl dan scratch, tahap ini tak diperlukan. Tapi sejujurnya sulit sekali menemukan kendaraan dalam keadaan seperti itu, apalagi jika dipakai sehari-hari.Seperti disebut di atas, fungsi polishing adalah untuk mengembalikan kemilau cat yang disembunyikan oleh defect. Untuk keperluan ini, produk-produk polish memiliki kemampuan abrasif, meski tak setinggi kompon. Kemampuan ini hanya diperlukan untuk mengikis sedikit lapisan yang sudah rusak, sehingga menampilkan lapisan pernis yang masih segar. Mungkin ini bisa dianalogikan dengan proses pengelupasan sel kulit mati pada manusia.

Karena kemampuan light cut-nya inilah polish juga seringkali bisa juga dipakai untuk menghilangkan swirl atau scratch ringan. Jika tahap ini dilewati dengan baik, maka asumsinya kendaraan sudah dalam kondisi penampilan yang sempurna.

4. Proteksi

Polish membuat permukaan kendaraan menjadi sempurna. Tapi kita perlu melindunginya dari berbagai kontaminan di sekitar. Untuk itu kendaraan perlu proteksi dari wax atau sealant. Secara prinsip keduanya sama, yang membedakan adalah bahan yang dipakai untuk membuatnya. Wax berasal dari tanaman carnauba, sementara sealant murni buatan manusia.Perbedaan selanjutnya adalah pada efek yang dihasilkannya. Wax biasanya menghasilkan efek dimensional pada permukaan, sementara sealant menghasilkan permukaan yang gloss. Perbedaan terakhir, sealant biasanya memiliki durabilitas yang lebih tinggi ketimbang wax.

Fungsi proteksi adalah menbuat lapisan di atas cat yang membuat kotoran dan air sulit menempel pada permukaan. Meski begitu, kekuatan proteksi ini ada batasnya. Jika kotoran dibiarkan menumpuk di atas lapisan proteksi, tetap saja kemampuannya akan terus menurun.

Selain kemampuan proteksi, wax atau sealant sering diasosiasikan dengan estetika penampilan kendaraan. produk-produk wax atau sealant dari berbagai produsen mempunyai karakteristik yang berbeda-beda dan subjektif. Meski begitu, secara umum orang menganggap efek yang dihasilkan wax lebih indah ketimbang sealant. Oleh karena itulah harga wax umumnya di atas harga sealant, meski daya tahannya lebih medioker.

5. Perawatan

Dengan melakukan tahap proteksi, bukan berarti kita sudah menyelesaikan tugas. Tahap terakhir ini justru merupakan fase yang dianggap paling sulit, karena kita harus mempertahankan kondisi sempurna kendaraan yang selesai didetailing, selama mungkin. Produk yang dipakai dalam fase ini adalah spray quick detailer, quick wax, dan tentu saja shampo untuk mencuci rutin.Guna quick detailer sebetulnya hampir mirip dengan mencuci biasa, hanya untuk kotoran lebih ringan. Ia digunakan saat permukaan kendaraan banyak dihinggapi debu. Selain itu ia juga bisa bisa dipakai untuk mencegah kontaminan berat seperti kotoran burung atau getah pohon merusak cat. Asal kontaminannya masih segar.

Selain membersihkan, quick detailer juga biasanya dilengkapi dengan fitur antistatik untuk meminimalisasi debu menempel, serta menambah gloss.

Produk selanjutnya adalah quick wax. Produk ini sebetulnya sama saja dengan wax/sealant konvensional, hanya bentuknya cairan yang di spray. Quick spray berguna untuk menambah daya tahan wax/sealant yang sudah diaplikasi, juga dipakai untuk membantu saat proses mengeringkan pascamencuci, agar mencegah water spot.

Tambahan

Selain tahap-tahap utama di atas, sebetulnya ada produk-produk lain yang fungsinya spesifik. Diantaranya:- Glaze: Produk ini digunakan untuk menambah efek deep setelah proses polishing, terutama pada kendaraan berwarna gelap. Glaze mempunyai kemampuan filler, yakni secara temporal menyembunyikan swirl halus dengan menutupinya.
– Bug & Tar Remover: Biasanya digunakan sebelum mencuci, untuk melepaskan kotoran yang lengket seperti aspal dan bekas serangga.
– Dressing: Produk “make up” untuk permukaan yang tak bisa diaplikasi produk-produk utama di atas. Permukaan-permukaan spesifik tersebut meliputi trim, kulit, ban, karet dan lainnya.

***Pertanyaannya, perlukah kita memperlakukan kendaraan dengan sebegitu kompleksnya? Itu berpulang kepada pilihan masing-masing. Semua proses ini mungkin lebih masuk akal jika diaplikasi pada kendaraan yang bersifat koleksi dan tak dipakai setiap hari.

Untuk kendaraan yang dipakai setiap hari, menjaganya untuk tetap tampil sempurna tentu mustahil. Tapi alangkah baiknya jika kita melakukan apa yang sempat dan sanggup kita jalankan dalam proses-proses di atas. Setidaknya secara rutin menjaga kebersihan, melindungi dengan sealan/wax, serta merawat dengan quick detailer. Jika 3 hal itu saja yang kita lakukan secara rutin, saat parkir bersama kendaraan lain di tempat umum, kita akan perbedaannya secara mencolok.

Must read×

Top