stat counter Seberapa Besar Pengaruh Pameran bagi Seseorang dalam Membeli Mobil - Jurnalotomotif.com

Seberapa Besar Pengaruh Pameran bagi Seseorang dalam Membeli Mobil


Tidak semua pengunjung pameran datang untuk membeli mobil. Ada juga yang datang sekadar mengisi waktu luang saja.

Deretan mobil dengan segala model dan warna, pramuniaga cantik yang membawa brosur lengkap dengan daftar harga berbagai merk mobil.

Itulah sedikit gambaran dari perhelatan Pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2017 yang berlangsung di gedung ICE-BSD City, Serpong, Tangerang Selatan.

Pameran yang berlangsung sejak 10-20 Agustus kemarin ini berhasil menyedot sekitar 400 ribu lebih pengunjung. Dari jumlah itu, perkiraan sementara total surat pemesanan kendaraan (SPK) GIIAS mencapai 21.000 unit dipesan oleh calon konsumen. Mitsubishi Xpander yang menjadi bintang GIIAS 2017 berhasil membukukan 5.281 unit SPK dari 6.374 unit SPK mobil Mitsubishi selama di GIIAS 2017.

Xpander berhasil mengungguli SPK Avanza yang hanya 2.191 unit, namun Toyota unggul dengan total SPK mencapai 7.136 unit.

Sementara itu, Wuling Motors berhasil mencatat SPK sebanyak 624 unit Confero dan Confero S. Selama pameran otomotif tersebut, Wuling telah menarik sebanyak 1.312 pengunjung untuk melakukan test-drive Confero S. (Baca: Ini Alasan Kenapa Anda Tidak Boleh Meremehkan Mobil Cina)

Dari data tersebut disimpulkan, tak semua calon konsumen yang menjajal mobil baru, memutuskan untuk memesan mobil.

Data tersebut juga memberi gambaran perbandingan antara total jumlah pengunjung pameran dengan yang benar-benar memesan atau membeli kendaraan.

Jika dilihat dari perbandingan antara total jumlah pengunjung dengan jumlah SPK, perbandingannya cuma 1:19. Artinya, dari 19 orang yang datang ke GIIAS 2017, ada satu mobil yang dipesan.

Namun jika dibandingkan dengan pameran yang sama di tahun lalu, efektivitas antara jumlah pengunjung dengan total SPK di GIIAS semakin membaik. Pada 2016, rasio hanya 1:28, lebih rendah malah bila dibandingkan dengan 2015 yang sempat mencapai 1:26. Hal serupa pun terjadi dalam pameran Indonesia International Motor Show (IIMS). IIMS bahkan mencatat hasil lebih rendah lagi, rasionya hanya 1:43, lebih buruk dari tahun sebelumnya yang sempat mencapai 1:40. Meski demikian, angka ini masih jauh lebih baik dibanding IIMS pertama digelar 2015 lalu yang rasionya 1:74.

Penyelenggara kedua pameran itu tentu akan menyangkal bahwa pameran mereka hanya semata menargetkan jumlah SPK atau pengunjung. Meskipun pada kenyataannya tak bisa dipungkiri bahwa ajang pameran kendaraan bermotor di Indonesia sesungguhnya adalah tempat jualan bagi agen pemegang merek (APM) dan para dealernya.

Ketua Umum Gaikindo, Yohanes Nangoi, mengatakan GIIAS 2017  tidak mematok target pengunjung dan nilai transaksi.

Sumber: IIMS dan Gaikindo. Infografik: Sabit/Tirto,id

“Target kami bukan jumlah pengunjung walaupun jumlah pengunjung menjadi sangat vital, tapi kalau terlalu banyak juga tidak bagus karena menjadi berdesakan sehingga tak nyaman. Target kami bukan jualan, target kami bukan rupiah,” kata Yohanes Nangoi seperti dikutip Antara, Juli 2017.

Keputusan membeli mobil bagi sebagian orang bukanlah keputusan yang mudah, sehingga butuh riset sebelum membeli.

Berdasarkan survei tahun 2016 yang dilakukan oleh Google Indonesia bersama lembaga survei Taylor Nelson Sofrens (TNS) terhadap 508 orang, 73 persen pembeli di Indonesia menggunakan perangkat seluler sebelum menentukan untuk memilih sebuah merk mobil.

Mereka membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk melakukan riset dan menentukan pilihan sebelum akhirnya membeli mobil.

Meskipun penelusuran lewat internet menjadi pilihan pertama untuk mencari tahu informasi sebelum memutuskan membeli mobil, namun pada kenyataannya, pameran mobil tetap dipadati pengunjung. Terutama mereka yang akan segera membeli mobil. Di pameran, calon pembeli bisa menyaksikan dan menjajal langsung mobil-mobil yang sudah dibidik untuk dibeli.

Beberapa survei di dunia mengungkapkan hubungan pameran mobil dengan keputusan orang membeli mobil.

Menurut penelitian pada 2012 yang dilakukan oleh Z. Nazim dari Northwood University, AS yang berjudul “Measuring the Purchase Intention of Visitors to the Auto Show,” ada sejumlah faktor yang mempengaruhi konsumen ketika berkunjung ke pameran mobil. Penelitian dilakukan terhadap 740 responden saat mereka mengunjungi pameran mobil.

Menurut penelitian tersebut, faktor-faktor penentu pembelian meliputi karakteristik konsumen, berupa minat, kehadiran, keutuhan informasi yang diterima dan penilaian keseluruhan dari pameran. Tingkat keingintahuan dan kebutuhan konsumen merupakan faktor pendorong yang penting untuk mewujudkan niat mereka dalam membeli mobil. Menghadiri pameran otomatis berguna dalam menentukan pilihan mereka ke depannya.

Model berpose di dekat mobil Honda All New Civic pada GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2016 di ICE BSD City, Tangerang, Banten, Kamis (18/8).

Studi lain juga menemukan bahwa pameran mobil berperan penting terhadap dalam penentuan keputusan konsumen. Auto Show Immersion Report, yang dilakukan oleh Foresight Research  menemukan bahwa 84 persen dari 1.185 responden pameran mobil pada tahun 2013 dan 2014 datang ke pameran terkait kepentingannya membeli mobil baru. Dan lebih dari setengahnya mengatakan keputusan pembelian mereka dipengaruhi oleh sebuah pameran mobil.

Dalam studi tersebut, ada enam keuntungan dari pameran mobil yang menjadikannya alat pemasaran dan penjualan. Satu di antaranya: pengunjung auto show lebih terdidik. Pameran otomatis memiliki pengaruh lebih besar pada calon pelanggan, menarik influencer, melibatkan pembeli, dan sebagainya.

Survei lain pun menunjukkan bahwa para pengunjung yang datang ke pameran mobil bukan hanya calon pembeli sesungguhnya. Survei yang dilakukan terhadap pengunjung Brussels Motor Show sejak 2007 hingga 2015 yang dirilis www.autosalon.be, menunjukkan banyak alasan orang datang ke pameran mobil.

Selain pengunjung yang serius dan hendak membeli mobil, ada juga yang bertujuan merealisasikan membeli mobil, untuk mencari pengalaman baru, mengorek informasi dan membandingkan produk, dan ada pula yang sebatas mengisi waktu.

Yang menarik, persentase pengunjung yang masih sebatas minat lebih tinggi daripada yang benar-benar membeli mobil. Porsinya pada survei 2015 dari sekitar 400 ribu pengunjung, masing-masing 27 persen dan 17 persen. Sedangkan untuk pengunjung yang alasannya hanya untuk jalan-jalan, pengalaman baru, dan cari-cari informasi hampir mencapai 50 persen.

Namun, survei ini juga menunjukkan bahwa kategori pengunjung yang akan membeli dalam waktu dekat, khususnya dalam waktu 2 bulan, lebih banyak dibanding mereka yang berniat membeli mobil di tahun yang sama.

Kondisi semacam ini tentu terjadi juga di ajang GIIAS dan IIMS. Tak semua pengunjung datang untuk membeli mobil. Namun, jika melihat tren efektivitas rasio pengunjung dan jumlah mobil yang dipesan pada GIIAS dan IIMS pada beberapa tahun terakhir, kedua pameran motor show ini memang semakin efektif sebagai sarana berjualan mobil.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *