stat counter Ini Alasan Kenapa Anda Tidak Boleh Meremehkan Mobil Cina - Jurnalotomotif.com

Ini Alasan Kenapa Anda Tidak Boleh Meremehkan Mobil Cina

Wuling


Produk Cina memang kerap dipandang enteng karena kualitasnya dianggap rendah. Tak terkecuali juga untuk produk mobil. Kemunculan mobil Wuling ke Indonesia pun disambut dengan tanda tanya besar.

Populasi pertumbuhan mobil di Cina memang tergolong lamban. Pada 1920-an, hanya ada 7.000-an mobil yang beredar di jalanan negeri Tirai Bambu tersebut, itu pun sebagian besar dimiliki oleh orang-orang asing yang menyukai mobil-mobil merk Amerika.

Kini semua sudah berubah. Tercatat di tahun 2016 lalu, ada sekitar 172 juta mobil yang tersebar di seluruh pelosok Cina. Meskipun jumlah tersebut masih jauh di bawah jumlah mobil di Amerika yang mencapai 265 juta unit, namun populasi mobil di Cina diperkirakan akan mencapai 300 juta unit pada 2020 nanti. Dengan asumsi, tambahan penjualan 25 juta mobil tiap tahun di pasar domestik.

Pesatnya pertumbuhan jumlah mobil di Cina tidak bisa dilepaskan dari majunya industri otomotif di negeri tersebut. Cina bukanlah pemain baru di pasar produsen mobil. Sudah 60 tahun lebih Cina berkecimpung di dunia otomotif dengan memulai membangun industri mobil.

Sebagaimana dilaporkan Eric Harwit dalam China’s Automobile Industry: Policies, Problems, and Prospects, pabrik First Automotive Work (FAW) dibangun di Changchun pada 1953. FAW menjadi pabrik otomotif pertama pemerintah Cina kerjasama Uni Soviet. Awalnya hanya memproduksi  truk-truk tipe Soviet, setelah itu baru merambah ke mobil penumpang.

Wafatnya Mao Zedong pada 1976, membawa perubahan besar di Cina, terutama pada investasi asing. Pada 1985 VW berinvestasi di Cina dengan skema Joint Venture. Kerjasama tersebut dianggap sebagai win win solution untuk urusan akses pasar mobil asing dan alih teknologi bagi Cina.

Industri otomotif Cina semakin berkembang tatkala mulai membangun dasar kebijakan industri otomotif pada 1994, yang menjadi salah satu pilar ekonomi Cina. Kebijakan ini menggariskan pengembangan industri mobil besar-besaran, pengembangan industri komponen, dan mendorong kepemilikan mobil pribadi.

Selain itu masuknya Cina ke WTO pada 2002 pun berperan besar bagi kemajuan industri otomotif mereka.

Pada 2011, sekitar 44 persen pasar otomotif di Cina dikuasai oleh pabrikan lokal yang umumnya dimiliki BUMN semacam FAW, Geely, Chery, Hafei, Hongqi, Brilliance Auto, BYD Auto, Dongfeng, BAIC Group, Jianghuai, Great Wall, Roewe, dan lain sebagainya.

Sementara sisanya dikuasai merek yang dikembangkan melalui mitra prinsipal asing seperti Volkswagen, General Motors (GM), Hyundai, Nissan, Toyota, Mitsubishi. Perusahaan-perusahan global ini juga melakukan joint venture dengan perusahaan lokal Cina, di antaranya SAIC Motor Corporation, salah satu empat besar produsen mobil di Cina. Sejak 2002, SAIC bersama GM dan Wuling Automobile Company membentuk SGMW yang merupakan induk dari Wuling Motors yang berdiri Agustus 2015 di Indonesia.

Sumber: Wuling.id. Infografik: Tirto.id/Rangga

Wuling memastikan masuk Indonesia dengan investasi $700 juta untuk fasilitas produksi pabrik mobil. Meski demikain, Wuling dipandang sebelah mata oleh publik di tanah air tidak bisa dipungkiri, walaupun merk ini mencatat penjualan tertinggi di Cina.

Dari Indonesia Hingga Amerika

Mantan Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat menanggapi kans mobil pabrikan Cina jika dibandingkan mobil Jepang yang saat ini sudah mendominasi yang sebentar lagi bertarung untuk kiprah jilid dua mobil Cina di Indonesia setelah era Geely dan Chery yang kandas satu dekade lalu.

“Ya bukan tandingannya,” begitu kata Hidayat membandingkan produk otomotif Cina dan produk negara lain yang sudah mapan menguasai pasar di Indonesia.

Apa yang dikatakan MS Hidayat tidak bisa dianggap benar, sebab Cina tentu sudah memiliki strategi ketika mulai masuk ke sebuah pasar. Strategi Wuling memang to the point, antara lain dengan membangun fasilitas produksi serta perencanaan 50 gerai layanan purna jual di seluruh Indonesia. Stategi ini sangat berbeda dengan Geely dan Chery yang memilih strategi jadi pedagang alias tak punya pabrik dan sangat lemah dalam hal purna jual, hingga masalah kualitas.

Reptasi soal rendahnya kualitas dan teknologi yang buruk dari mobil Cina yang selama ini melekat berangsur-angsur memudar.

Soal teknologi misalnya, mobil produk Cina sudah dibekali dengan perangkat canggih. Contohnya mobil Geely Boyue yang kini sudah terkoneksi dengan Apple CarPlay. Perangkat ini mampu memberi panduan arah lokasi pom bensin terdekat dan berbagai fitur canggih lainnya lewat suara. Selain itu, mobil produk Cina pun sudah jadi diminati investor besar semacam Warren Buffet yang berinvestasi di mobil listrik BYD, juga Samsung.

Terkait kualitas, mobil Cina terus menunjukkan peningkatan. Hal itu terlihat pada studi-studi yang dilakukan J.D. Power. J.D. Power adalah lembaga yang rutin memantau kualitas produk berdasarkan pengalaman pemilik mobil ketika menerima mobil keluaran baru dari diler sejak bulan kedua hingga keenam. Studi meliputi persoalan kecacatan, malfungsi, kerusakan interior, eksterior, hingga mesin, juga komponen-komponen lain-lain yang diukur per 100 kendaraan.

Dalam studi terbaru J.D. Power masalah yang rata-rata selama ini menimpa mobil Cina mulai membaik dari tahun ke tahun. Pada 2016, cuma ada 102 masalah dari 100 kendaraan. Tahun lalu masih ada 105 masalah untuk setiap 100 kendaraan. Kualitas ini jelas jauh lebih baik dibandingkan 2009, yang rata-rata masih ada 178 masalah dalam 100 kendaraan. Apalagi dibandingkan angka di tahun 2008 yang masih memiliki 207 masalah per 100 kendaraan.

Meningkatnya kualitas mobil Cina dan dukungan pemerintah Cina yang berambisi memperbaiki industri mobil negaranya tentu menjadi peringatan keras bagi pabrikan mobil dunia. Wall Street Journal dalam tulisan yang berjudul “China Looks to Export Auto Overcapacity on Slow-Growth World” awal Mei 2017 lalu sudah mewanti-wanti mengenai “bahaya” serbuan mobil Cina.

”Waspadalah para pembuat mobil di dunia: Cina sedang bersiap membanjiri dunia dengan ekspor mobilnya”.

Cina memang menargetkan produksi 30 juta mobil per tahun dalam tiga tahun ke depan dan 35 juta unit pada 2025. Jumlah sebesar itu tentu tak mungkin diserap seluruhnya untuk pasar Cina.

Baru-baru ini, pabrikan mobil Cina seperti Guangzhou Automobile Group (CAG) juga berambisi mencicipi pasar mobil AS yang cukup besar tapi terkenal ketat untuk urusan kualitas. CAG mencoba peruntungan baru setelah pabrikan Cina lain seperti Zhejiang Geely Holding Group dan BYD Auto yang sempat gagal di AS. CAG satu-satunya peserta dari Cina dalam ajang North American International Auto Show in Detroit Januari 2017 lalu.

Produk-produk ini akan memulai debutnya di AS dengan membuka showroom perdana, awal tahun depan. Uniknya, mobil yang akan dipasarkan di Amerika dengan seri SUV Trumpchi GS4—tapi pihak CAG menegaskan nama ini tak ada kaitannya dengan Presiden Donald Trump.

Michael J. Dunne, penulis buku American Wheels, Chinese Roads: The Story of General Motors in China mengakui mobil keluaran Cina mampu dengan cepat mengejar ketertinggalan persoalan kualitas dengan pabrikan mobil Barat, tapi mereka harus berjuang memenuhi syarat ketat soal emisi dan standard keamanan di AS.

“Mobil Cina harus meraih kepercayaan konsumen Amerika, seperti mobil Korea dan Jepang sebelumnya. Ini butuh 10 tahun,” kata Dunne dikutip dari Bloomberg.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Mobil Cina Wuling tentunya akan menghadapi tantangan yang berbeda. Namun, 10 tahun adalah waktu yang terlalu singkat bagi merek ini untuk bisa membuktikan diri menjadi kuda hitam di tengah belantara mobil-mobil Jepang yang juga mengalami hal sama. Pengalaman panjang di industri otomotif dan perbaikan kualitas tentu jadi modal besar bagi mobil Cina seperti Wuling, jika ia hendak berebut pasar dengan merek-merek mobil Jepang di Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *