stat counter Bus Viking & Coffee Combi: Ketika Kendaraan Berubah Menjadi Kedai - Jurnalotomotif.com

Bus Viking & Coffee Combi: Ketika Kendaraan Berubah Menjadi Kedai


VW Combi  tahun 73 Disulap Dika menjadi kedai kopi. 

Bus Viking

bus viking

Suasana masih tampak lengang saat saya menapaki Jalan Diponegoro, Bandung, Rabu pekan lalu. Tapi, di depan Gedung Sate, bus Mercy berwarna biru telah terparkir di sana pagi itu. Para penggemar kesebelasan Persib Bandung menyebut bus yang telah menjadi ikon Jawa Barat itu sebagai bus Viking. Ya, bus biru itu milik komunitas pendukung Persib yang digunakan untuk menjual aneka barang resmi berlogo Persib.

“Ide awalnya muncul karena ditawari bus sama Damri. Lalu anak-anak Viking punya kreativitas untuk menjadikan bus ini sebagai merchandise store,” kata Abel Sastranegara, 26 tahun, anggota komunitas
Viking yang bertugas menjaga toko.

Walaupun bus itu telah menjadi ikon Jawa Barat, Abel menambahkan, pemerintah daerah tidak campur tangan. Dana untuk memodifikasi bodi dan mengecat ulang bus dengan panjang sekitar 13 meter, lebar 2,5 meter, dan tinggi 4 meter itu semuanya murni memakai uang kas komunitas.

Bus ini biasanya menghabiskan sekitar 30 liter bahan bakar setiap pekan. Tapi, bila harus mengikuti tim Persib bertanding ke luar Kota Bandung, tentu saja jumlah konsumsi bahan bakar bertambah sesuai dengan jarak.

“Sekarang sih biaya perawatan sekitar Rp 5 juta per bulan,” ujar Abel.

Agar pembeli leluasa memilih aneka barang di dalam bus, ia membatasi maksimal hanya 10 orang. Sisanya menunggu antrean. Harga barang di dalam bus sama dengan yang dijual di toko. Kaos junior untuk balita, misalnya, dijual Rp 50 ribu, sedangkan jaket Rp 350.

Coffee Combi

coffee combi bandung

Selain bus Viking, di Bandung ada kendaraan lain yang dijadikan untuk menjual produk, yakni Coffee Combi, di lingkungan kampus Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha. Hanya sejak beberapa pekan lalu, kedai berjalan itu tak lagi mangkal di sana karena tengah menyiapkan konsep dan lokasi baru yang dianggap lebih strategis.

“Kami membuka cabang di Cibubur Junction dan meliburkan cabang Bandung untuk sementara,” kata Rahadika Widya Nugraha saat dihubungi via telepon selulernya.

Sebelumnya, saya pernah beberapa kali kongko sambil menyeruput kopi di Coffee Combi. Dika  memodifikasi Volkswagen Combi keluaran 1973 menjadi kedai kopi sejak akhir 2011. Mobil ini dilengkapi dengan genset 3.000 watt agar bisa memfungsikan Saeco Royal Cappuccino, yang berdaya listrik 2.300 watt.

Di dalam mobil juga ada mesin espresso tipe bean-to-cup atau superotomatis. Mungkin karena di lingkungan
kampus, Dika tak mematok harga tinggi. Cukup merogoh kocek maksimal 15 ribu untuk berbagai menu kopinya. Dika dibantu oleh dua barista, yang mengolah minuman dan melayani pembeli. Saat ramai, CoffeeCombi bisa menyajikan hingga puluhan cangkir per hari.

Kedainya buka setiap hari dari pagi hingga pukul 7 malam, kecuali Minggu hanya dibatasi sampai pukul 3 sore. Coffee Combi juga sering mengadakan perjalanan untuk memasarkan kopinya. Seperti akhir 2012, Coffee Combi melakukan perjalanan ke Bogor. Pembelinya pun harus mengecek akun Twitter setiap hari
di @CoffeeCombi untuk mengetahui tempat mangkal VW Combi keren ini, karena tempatnya berubah-ubah
setiap hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

close